Mengukir Karakter Qurani di Tengah Alam: Perjusa SMP elTAHFIDH Cetak Santriwati Berjiwa Pemimpin di Buperta Cibubur

JAKARTA – Ratusan santriwati dari SMP Qur’an elTAHFIDH Islamic Boarding School, berhasil menyelesaikan agenda tahunan mereka, Perkemahan Jumat-Sabtu (Perjusa). Bertempat di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata (Buperta) Cibubur, kegiatan yang berlangsung pada 22-23 Agustus 2025 ini secara khusus dirancang sebagai metode Pramuka untuk menanamkan nilai-nilai kemandirian, kepercayaan diri, dan kepemimpinan pada diri setiap peserta. Hasilnya? Para santriwati menunjukkan perubahan signifikan: mereka menjadi lebih mandiri, percaya diri, dan memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat.

Kegiatan Perjusa ini merupakan salah satu program unggulan dari Pesantren Modern elTAHFIDH yang didirikan oleh Jhon Edy Rahman. Program ini bertujuan untuk membentuk karakter moral yang baik, membangun keterampilan, serta melatih kemandirian dan kepemimpinan generasi Qur’ani. Selama dua hari satu malam, para santriwati kelas VIII dan XI dihadapkan pada serangkaian tantangan yang seru, mendidik, dan jauh berbeda dari rutinitas di ruang kelas.


Perjalanan dari Tenda Hingga Api Unggun Penuh Makna

Kegiatan dimulai dengan upacara pembukaan yang penuh semangat. Kepala Sekolah, Ustadz Ganjar Muharom, S.Pd., M.Ag Al Hafidh, dalam sambutannya menegaskan bahwa pendidikan karakter tidak hanya bisa didapat dari buku, melainkan juga dari pengalaman langsung di alam terbuka. Setelah penyematan tanda peserta, para santriwati langsung dihadapkan pada tantangan pertama: mendirikan tenda. Bekerja sama dalam tim, mereka belajar tentang pembagian tugas, komunikasi efektif, dan ketangkasan dalam memanfaatkan alat seadanya. Proses ini menjadi cerminan nyata dari kolaborasi yang solid, fondasi utama dari setiap Boarding School Islami yang berfokus pada kebersamaan.

Setelah tenda berdiri kokoh, aktivitas berlanjut dengan Latihan Baris Berbaris (LBB) untuk melatih kedisiplinan dan kekompakan. Malam harinya, suasana berubah menjadi lebih menantang sekaligus reflektif. Acara jelajah malam menjadi ajang untuk menguji keberanian dan kemampuan navigasi. Para santriwati yang awalnya ragu-ragu, harus mengumpulkan nyali dan saling menguatkan untuk melewati rute yang gelap. Setiap langkah yang diambil dalam kegelapan menjadi bukti nyata bahwa kepercayaan diri adalah kunci untuk mengatasi ketakutan.

Puncak dari malam pertama adalah api unggun. Di sekeliling api yang hangat, para peserta menampilkan bakat seni mereka, mulai dari yel-yel, drama, hingga pertunjukan musik. Momen ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga ajang untuk mempererat tali persaudaraan. Sesi renungan dan refleksi yang dipandu oleh Dewan guru juga menjadi bagian penting, mendorong para santriwati untuk memahami makna kemandirian dan pentingnya menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain.


Mengasah Keterampilan Lewat Lomba Masak dan Games

Hari kedua diawali dengan senam pagi yang ceria, membuat tubuh siap untuk menghadapi tantangan berikutnya. Berbagai games yang menguji strategi dan kerja sama tim menjadi agenda utama. Permainan-permainan ini dirancang untuk memecah kebekuan dan membangun keakraban antar santriwati dari kelas yang berbeda.

Salah satu acara yang paling dinantikan adalah lomba memasak. Berbekal kompor portabel, dan berbagai bahan masakan setiap kelompok harus menunjukkan kreativitas mereka dalam mengolah hidangan. Dewan guru yang menjadi saksi mata mengamati setiap detail, mulai dari cara mereka mengelola bahan, menjaga kebersihan, hingga efisiensi waktu. Kegiatan ini secara efektif melatih keterampilan praktis yang sangat berguna, mengajarkan bahwa kemandirian tidak hanya sebatas konsep, tetapi juga aplikasi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Mereka belajar bahwa makanan yang mereka santap adalah hasil kerja keras dan kolaborasi.

Ustaz Ganjar Muharom, S.Pd., M.Ag Al Hafidh, yang memantau seluruh proses, menyampaikan apresiasinya. “Kami bangga melihat bagaimana anak-anak menunjukkan semangat luar biasa. Mereka yang awalnya kesulitan memasang tali tenda, kini bisa berkreasi dengan masakan. Ini adalah bukti nyata bahwa program seperti Perjusa sangat efektif dalam membentuk generasi Qur’ani yang kuat, mandiri, dan berjiwa kepemimpinan,” ujarnya. Beliau menambahkan bahwa program ini adalah jawaban dari motivasi elTAHFIDH untuk menciptakan lulusan yang tidak hanya unggul dalam hafalan Al-Qur’an, tetapi juga siap terjun di masyarakat.


Masa Depan yang Lebih Baik

Dampak dari Perjusa ini sangat terasa bagi para santriwati. Pengalaman selama dua hari satu malam telah menanamkan nilai-nilai luhur yang tidak bisa didapatkan dari pelajaran di kelas. Mereka belajar untuk lebih menghargai alam, bekerja sama, dan mengambil tanggung jawab atas diri sendiri. Dengan kondisi yang senang, seru, dan mendidik, mereka tidak hanya bersenang-senang, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang lebih tangguh.

Pengalaman di Buperta Cibubur ini akan menjadi bekal berharga bagi para santriwati SMP Qur’an elTAHFIDH di masa depan. Sebagai salah satu pesantren terbaik di Jawa Barat, elTAHFIDH terus berkomitmen untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya menguasai ilmu agama dan kurikulum nasional, tetapi juga memiliki karakter mandiri, percaya diri, dan jiwa kepemimpinan yang kuat. Keberhasilan Perjusa menjadi bukti nyata bahwa Pesantren Qur’an ini mampu mencetak generasi muslimah yang utuh, siap menghadapi tantangan zaman dengan penuh keyakinan dan bekal moral yang kokoh.

Scroll to Top